Penyakit HIV/AIDS merupakan isu kesehatan global yang memerlukan pemahaman mendalam, terutama mengenai bagaimana penularan dan penyebab utamanya terjadi. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel-sel yang disebut sel T helper atau sel CD4. Sel CD4 berfungsi penting dalam membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Ketika HIV terus merusak sel-sel ini, tubuh menjadi sangat rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan kanker, kondisi inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).
Penting untuk diingat bahwa terinfeksi HIV tidak selalu berarti seseorang langsung mengidap AIDS. Dengan pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif, seseorang dengan HIV bisa hidup sehat dalam waktu yang sangat lama tanpa berkembang menjadi AIDS. Namun, jika virus dibiarkan berkembang tanpa pengobatan, kerusakan sistem imun akan menjadi parah dan berujung pada sindrom AIDS.
Penyebab mendasar dari infeksi HIV adalah paparan langsung terhadap cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi virus tersebut. Virus HIV tidak menyebar melalui sentuhan biasa, gigitan nyamuk, berbagi peralatan makan, atau toilet umum. Penularan hanya terjadi melalui lima jalur utama berikut:
Ini adalah jalur penularan HIV yang paling umum secara global. Penularan terjadi melalui pertukaran cairan tubuh selama hubungan seksual (anal, vaginal, maupun oral) tanpa menggunakan kondom. Cairan yang mengandung virus meliputi air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan darah. Risiko penularan meningkat jika terjadi luka atau iritasi pada area genital.
Penggunaan jarum suntik secara bersamaan, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik, merupakan jalur penularan yang sangat efisien. Jika darah yang terinfeksi HIV masih tertinggal di ujung jarum dan kemudian digunakan oleh orang lain, risiko penularan menjadi sangat tinggi. Hal serupa berlaku untuk peralatan medis yang terkontaminasi dan tidak disterilisasi dengan benar.
Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada bayinya melalui tiga cara: saat kehamilan (melalui plasenta), saat proses persalinan (kontak dengan darah dan cairan vagina ibu), atau selama masa menyusui (melalui ASI). Berkat kemajuan medis, risiko penularan ini dapat ditekan hingga kurang dari 1% dengan terapi ARV yang tepat selama kehamilan dan persalinan, serta penghindaran menyusui.
Meskipun sangat jarang terjadi di negara-negara dengan sistem kesehatan yang baik dan prosedur skrining darah yang ketat, penularan masih mungkin terjadi jika seseorang menerima transfusi darah atau produk darah yang tidak diperiksa dan ternyata terkontaminasi HIV. Saat ini, semua bank darah wajib melakukan tes HIV pada setiap kantong darah yang disumbangkan.
Paparan terhadap darah dalam jumlah signifikan, seperti melalui luka tusuk yang dalam pada tenaga medis saat menangani pasien HIV (risiko kecelakaan kerja), juga merupakan penyebab. Namun, risiko penularan melalui cairan tubuh lain seperti air liur, keringat, air mata, atau urine sangat minim karena konsentrasi virus dalam cairan-cairan tersebut terlalu rendah untuk menyebabkan infeksi.
Setelah seseorang terinfeksi HIV, virus mulai bereplikasi dan menghancurkan sel CD4. Tahapan ini biasanya melalui tiga fase tanpa pengobatan:
Memahami penyebab penyakit HIV AIDS adalah langkah pertama menuju pencegahan. Pencegahan berfokus pada menghindari kontak dengan cairan tubuh pembawa virus melalui praktik seksual yang aman dan tidak berbagi jarum suntik.