Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah dan pelajaran. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-44. Ayat ini berbicara tentang pengakuan alam semesta terhadap kebesaran dan keesaan Allah SWT.
Teks Ayat dan Terjemahannya
Makna Mendalam Surah Al-Isra Ayat 44
Ayat 44 ini menyajikan sebuah konsep kosmologis yang luar biasa: alam semesta secara keseluruhan adalah sebuah entitas yang hidup dan secara konstan berkomunikasi dengan Sang Pencipta melalui tasbih (penyucian dan pujian).
Ketika kita membaca ayat ini, kita diingatkan bahwa konsep ketuhanan Allah SWT tidak hanya terbatas pada pengakuan lisan manusia. Tujuh lapis langit, seluruh planet, bintang, dan semua materi di bumi—termasuk gunung, lautan, pepohonan, dan hewan—semuanya memiliki cara unik untuk mengakui dan memuji keagungan Allah. Ini adalah penegasan mutlak mengenai Tawhid (Keesaan Allah) yang melampaui pemahaman indrawi kita.
Tasbih yang Tidak Terpahami
Poin krusial kedua dari ayat ini adalah kalimat: "tetapi kamu sekalian tidak memahami tasbih mereka itu." Ini menunjukkan keterbatasan persepsi manusia. Meskipun kita dapat mengamati keteraturan alam, hukum fisika, dan siklus kehidupan—yang semuanya merupakan manifestasi dari keteraturan ilahi—kita tidak dapat mendengar atau menangkap frekuensi pujian yang dipancarkan oleh ciptaan tersebut. Para mufasir menjelaskan bahwa tasbih ini bisa jadi berupa getaran partikel, resonansi energi, atau bentuk komunikasi spiritual yang hanya diketahui oleh Allah dan ciptaan-Nya sendiri.
Ayat ini berfungsi sebagai teguran lembut kepada manusia yang seringkali lalai dan angkuh, merasa bahwa hanya opini dan pemikiran manusialah yang relevan. Padahal, seluruh alam raya secara simultan bersaksi atas kemuliaan Allah.
Sifat Allah: Halim dan Ghafur
Ayat ditutup dengan penyebutan dua sifat utama Allah: Al-Halim (Maha Penyantun) dan Al-Ghafur (Maha Pengampun). Setelah menegaskan bahwa seluruh alam memuji-Nya, Allah mengingatkan manusia bahwa meskipun kita seringkali gagal menyadari atau berpartisipasi dalam tasbih agung ini, bahkan saat kita melakukan kesalahan atau kekhilafan, Allah tetap menahan murka-Nya (Halim) dan senantiasa membuka pintu pengampunan (Ghafur).
Implikasinya bagi seorang Muslim sangat mendalam. Dengan memahami bahwa alam semesta berada dalam keadaan ibadah abadi, seharusnya seorang mukmin terdorong untuk meningkatkan kesadaran spiritualnya. Kita dipanggil untuk berusaha menyelaraskan diri dengan irama alam semesta yang bertasbih. Kegagalan kita memahami bahasa pujian mereka seharusnya tidak menjadi alasan untuk berdiam diri, melainkan motivasi untuk lebih giat berzikir, merenung, dan memohon ampunan, memanfaatkan sifat kemurahan Allah yang telah dijanjikan di akhir ayat tersebut.
Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 44 bukan hanya deskripsi alam semesta, tetapi juga sebuah undangan untuk memperluas cakrawala spiritual kita, menyadari bahwa keagungan Allah meliputi setiap atom dan setiap momen waktu.