Fokus pada Ketetapan Ilahi: Al-Maidah Ayat 144

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an. Surah ini kaya akan ajaran tentang hukum, etika, kisah para nabi, dan pentingnya kepemimpinan yang adil. Di tengah pembahasan panjang mengenai syariat, terdapat sebuah ayat yang sangat krusial mengenai otoritas penetapan hukum: **Surah Al-Maidah ayat 144**.

HUKUM K Visualisasi Otoritas Hukum Ilahi

Visualisasi Otoritas Hukum Ilahi

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 144

قُلْ أَتُحَدِّثُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Katakanlah: "Apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak Dia ketahui yang ada di langit dan yang ada di bumi, padahal Allah Maha Mengetahui segala isi hati?" (QS. Al-Maidah: 144)

Konteks Historis dan Penekanan Otoritas

Ayat 144 ini turun dalam konteks di mana terjadi perdebatan atau perselisihan mengenai hukum dan ketentuan yang berlaku, khususnya setelah peristiwa turunnya hidangan (Al-Maidah) yang diminta oleh Bani Israil. Ayat ini secara tegas mengarahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjawab keraguan atau klaim sepihak dengan penegasan mutlak mengenai ilmu Allah SWT.

Inti dari ayat ini adalah penolakan keras terhadap klaim pengetahuan manusia yang dianggap menyamai atau melebihi pengetahuan Allah. Ketika manusia mencoba menetapkan hukum atau memberikan informasi tentang realitas alam semesta (baik yang tampak maupun yang tersembunyi di langit dan bumi) tanpa landasan wahyu, mereka sesungguhnya sedang berbohong atas nama Allah. Allah menegaskan bahwa Dia adalah ‘Alīmun bi Dhātish Shudūr (Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada/hati).

Implikasi Ilmu Allah yang Maha Luas

Frasa "Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada" memiliki implikasi teologis yang sangat dalam. Ini bukan hanya tentang pengetahuan faktual tentang benda-benda fisik di alam semesta, tetapi juga mencakup niat tersembunyi, keimanan yang tulus, kemunafikan, dan motivasi terdalam setiap individu. Jika Allah mengetahui isi hati yang paling rahasia, maka klaim atau penetapan hukum yang bertentangan dengan petunjuk-Nya, yang dilakukan atas dasar hawa nafsu atau kepentingan pribadi, adalah sia-sia di hadapan-Nya.

Dalam ranah penetapan hukum (syariat), ayat ini menjadi fondasi bahwa sumber hukum yang sah dan absolut hanya berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala kebaikan dan keburukan bagi ciptaan-Nya. Mengambil hukum dari sumber selain-Nya, atau menafsirkan wahyu dengan hawa nafsu, sama saja dengan mengklaim memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan ilmu manusia, sementara Allah Maha Melihat segalanya.

Relevansi Sepanjang Zaman

Meskipun konteksnya spesifik pada dialog pada masa kenabian, relevansi Al-Maidah ayat 144 meluas hingga masa kini. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan bagi umat Islam (dan juga bagi siapa pun yang berurusan dengan otoritas) bahwa kebenaran sejati hanya bersumber dari wahyu ilahi. Dalam menghadapi berbagai ideologi, tantangan sosial, dan pergulatan moral, umat harus kembali merujuk pada sumber yang ilmunya meliputi langit, bumi, dan isi hati manusia.

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Ia memaksa pemikir, pemimpin, dan masyarakat untuk mengakui keterbatasan pengetahuan mereka sendiri. Ketika manusia berani mengklaim bahwa mereka telah mencapai kebenaran mutlak tanpa merujuk pada panduan Ilahi, mereka telah terjebak dalam kesombongan yang paling dibenci oleh Allah, yaitu menyandarkan pengetahuan yang tidak mereka miliki kepada-Nya.

Surah Al-Maidah ayat 144 menegaskan kedaulatan ilmu Allah. Ia adalah benteng terakhir yang melindungi umat dari penyimpangan yang berawal dari ketidaktahuan yang disamarkan menjadi pengetahuan. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim diperintahkan untuk selalu bersikap kritis terhadap klaim-klaim pengetahuan yang tidak berdasar dan selalu mencari kebenaran hakiki yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta.

Oleh karena itu, ayat ini menjadi landasan penting dalam studi Ushul Fiqh dan Aqidah, mengingatkan bahwa ketaatan sejati adalah penerimaan terhadap apa yang Allah tetapkan, karena Dia adalah satu-satunya entitas yang mengetahui secara sempurna apa yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

🏠 Homepage