Ilustrasi Petunjuk Ilahi
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dilimpahkan) kepada kalian, ketika tentara-tentara datang menyerang kalian, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak kalian lihat. Dan Allah Maha Melihat akan apa yang kalian kerjakan."
Surah Al-Maidah, yang berarti "Al-Ma’idah" (Hidangan), adalah salah satu surah Madaniyah. Ayat ke-7 dari surah ini membawa pesan yang sangat spesifik mengenai pengingatan akan pertolongan Allah dalam sebuah peristiwa peperangan penting dalam sejarah Islam. Ayat ini sering dikaitkan dengan peristiwa besar yang terjadi pada masa Rasulullah SAW, khususnya Perang Khandaq (Perang Parit) atau kadang juga dikaitkan dengan beberapa peperangan lain di mana kaum Muslimin dibantu oleh pertolongan gaib.
Dalam konteks Perang Khandaq, kaum Muslimin menghadapi koalisi besar dari berbagai suku Quraisy dan sekutunya yang mengepung Madinah. Dalam keputusasaan menghadapi jumlah musuh yang jauh lebih besar, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Pertolongan ini berupa angin dingin yang sangat kencang (badai) yang menerpa kemah-kemah musuh, membuat mereka kedinginan, mengacaukan perbekalan, dan akhirnya memaksa mereka mundur. Selain itu, disebutkan juga bantuan malaikat ('jundun lam tarawuha'), yaitu bala tentara yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa, yang menambah kegentaran dan kekacauan di pihak musuh.
Ayat ini mengandung beberapa pelajaran penting yang relevan bagi setiap mukmin, terlepas dari konteks waktu:
Bagi umat Islam kontemporer, ayat ini relevan dalam menghadapi berbagai tantangan modern, baik tantangan pribadi, sosial, maupun kolektif. Ketika kita merasa terdesak oleh masalah yang seolah tidak ada jalan keluar—baik itu krisis ekonomi, fitnah sosial, atau tekanan ideologis—Ayat 7 Al-Maidah menjadi penguat spiritual. Ia mengajarkan bahwa usaha maksimal harus dilakukan, tetapi hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Allah.
Sikap yang dituntut adalah: pertama, berusaha sekuat tenaga (seperti membangun parit atau melakukan strategi pertahanan). Kedua, memelihara keyakinan penuh bahwa Allah akan mengirimkan bantuan sesuai kehendak-Nya, meskipun bantuan itu datang dalam bentuk yang tidak terduga—mungkin melalui perubahan hati seseorang, munculnya solusi mendadak, atau kekuatan batin yang tak terjelaskan.
Ketulusan dalam setiap tindakan (niat karena Allah) menjadi landasan penting karena Allah adalah Al-Basir (Maha Melihat). Keikhlasan dalam menghadapi ujian adalah kunci utama untuk mendapatkan pertolongan Ilahi yang seringkali melampaui perhitungan akal rasional manusia. Dengan demikian, Al-Maidah ayat 7 adalah pelajaran abadi tentang ketergantungan total kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal.