Memahami Kedalaman Surat Al-Hijr Ayat 88

Ikon Pengetahuan dan Ketenangan

Ilustrasi Keteguhan dan Hikmah Ilahi

Teks dan Terjemahan Ayat

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

(Terjemahan Kemenag RI): Janganlah sekali-kali kamu menolehkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka, dan jangan pula kamu bersedih hati terhadap mereka dan rendahkanlah sayapmu untuk para mukminin.

Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, adalah wahyu yang kaya akan narasi profetik, kisah-kisah umat terdahulu, dan teguran-teguran penting bagi Nabi Muhammad SAW serta umatnya. Di tengah berbagai perintah dan larangan, terdapat ayat 88 yang memiliki makna instruksional mendalam, terutama mengenai sikap seorang mukmin terhadap dunia dan terhadap sesama. Ayat ini seringkali menjadi penyeimbang bagi hati yang mungkin mulai tergiur oleh gemerlap materi atau menjadi gundah karena tingkah laku orang lain.

Larangan Membandingkan Diri dengan Kenikmatan Duniawi

Bagian pertama ayat ini, "Janganlah sekali-kali kamu menolehkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka," adalah peringatan keras terhadap bahaya membandingkan. Kata "menolehkan pandangan" (لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ) bukan sekadar pandangan mata biasa, melainkan fokus hati dan pikiran. Allah SWT mengingatkan Rasul-Nya—dan secara implisit seluruh umat—bahwa apa yang dilihat pada orang-orang musyrik atau golongan yang durhaka berupa kemewahan, kekayaan, atau kesenangan sementara, adalah ujian dan kenikmatan sesaat yang diberikan oleh Allah.

Sifat manusiawi sering kali mendorong kita untuk merasa iri atau tertekan ketika melihat orang lain mendapatkan kemudahan material, padahal kita sedang berjuang dalam ketaatan. Namun, ayat ini menegaskan bahwa fokus pada kenikmatan orang lain adalah pembuangan energi spiritual. Kenikmatan duniawi tersebut sejatinya tidak kekal dan sering kali menjadi jembatan menuju kehancuran bagi mereka yang tidak bersyukur. Bagi seorang mukmin sejati, fokus harus selalu diarahkan kepada apa yang dijanjikan Allah di akhirat, bukan pada apa yang dinikmati kaum yang ingkar di dunia.

Menghilangkan Kesedihan atas Penolakan

Bagian kedua, "dan jangan pula kamu bersedih hati terhadap mereka," ditujukan kepada kesedihan Nabi Muhammad SAW atas penolakan keras atau keingkaran kaum Quraisy yang terus menerus menolak dakwah tauhid. Kesedihan Nabi adalah wujud kasih sayang beliau yang luar biasa. Akan tetapi, Allah mengajarkan batasan dalam berdakwah. Jika seseorang atau sekelompok orang telah diberikan kesempatan, diberikan peringatan, namun tetap memilih untuk berpaling, maka kesedihan berlebihan tidaklah produktif.

Ini mengajarkan kepada para pendakwah dan juga individu muslim bahwa tanggung jawab kita adalah menyampaikan kebenaran dengan maksimal. Setelah itu, hasil dan reaksi audiens berada di luar kendali kita dan merupakan hak prerogatif Allah. Menghabiskan energi untuk bersedih atas keengganan orang lain hanya akan melemahkan semangat untuk berdakwah kepada mereka yang mungkin masih mau menerima kebenaran.

Sikap Merendah kepada Sesama Mukmin

Kalimat penutup ayat ini merupakan tuntunan etika sosial yang mulia: "dan rendahkanlah sayapmu untuk para mukminin." Kata "merendahkan sayap" (وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ) adalah metafora yang sangat indah, menggambarkan sikap tawadhu' (rendah hati) seperti induk burung yang melindungi anaknya dengan sayapnya. Ini adalah perintah agar seorang pemimpin, atau siapa pun yang memiliki kelebihan, berlaku lembut, penuh kasih sayang, dan membumi terhadap saudara seiman.

Ini menunjukkan keseimbangan sempurna dalam ajaran Islam. Di satu sisi, kita diperintahkan untuk tidak tergiur oleh kemewahan duniawi dan tidak terlalu larut dalam kesedihan atas penolakan orang kafir. Di sisi lain, kita diperintahkan untuk menunjukkan kerendahan hati tertinggi kepada komunitas beriman. Kerendahan hati ini membangun ukhuwah (persaudaraan) yang kuat, menghilangkan kesombongan, dan memastikan bahwa kemuliaan yang didapat dari Allah tidak membuat seseorang bersikap angkuh kepada sesama yang sedang berjuang di jalan-Nya.

Pelajaran Integral dari Ayat 88

Surat Al-Hijr ayat 88 berfungsi sebagai pedoman psikologis dan spiritual. Ia mengajarkan manajemen ekspektasi: jangan berharap duniawi orang lain akan menjadi standar kebahagiaan Anda, dan jangan biarkan penolakan orang lain merusak misi Anda. Inti dari ayat ini adalah menjaga fokus internal dan integritas hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama mukmin). Dengan mengaplikasikan prinsip ini, seorang mukmin dapat berjalan di dunia dengan ketenangan, tanpa iri hati, dan dengan hati yang selalu lembut kepada saudaranya. Ini adalah kunci ketahanan spiritual dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh ujian.

🏠 Homepage