Al-Isra Ayat 17 dan 27: Teks, Latin, dan Makna

Ilustrasi Keseimbangan dan Larangan Pemborosan Dua tangan terbuka memegang timbangan seimbang, di latar belakang terdapat sungai mengalir dan pohon yang subur. Keseimbangan

Surat Al-Isra (Bani Israil) adalah salah satu surat dalam Al-Qur'an yang kaya akan ajaran moral dan etika kehidupan. Dua ayat yang sering menjadi sorotan karena relevansinya dalam mengatur hubungan manusia dengan harta dan sesama adalah ayat 17 dan 27. Kedua ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan, keadilan, dan larangan keras terhadap pemborosan.

Surat Al-Isra Ayat 17

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Walaa taqrabuu maalal yatiimi illaa bil-lattee hiya ahsan, hattaa yablugha asyuddah, wa awfoo bil-'ahd, innal 'ahda kaana mas'uulaa."

Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik (untuk memeliharanya), sampai ia dewasa dan ia (mampu) memelihara hartanya. Dan penuhilah segala janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya."

Penjelasan Ayat 17

Ayat ini memberikan peringatan tegas mengenai larangan menyentuh atau menggunakan harta anak yatim kecuali dalam rangka pemeliharaan terbaik. Islam sangat menjunjung tinggi perlindungan terhadap mereka yang lemah, terutama anak yatim piatu yang kehilangan pelindung utama mereka. Penjagaan harta ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan integritas hingga anak tersebut mencapai usia dewasa dan mampu mengurus kekayaannya sendiri. Selain itu, ayat ini menekankan pentingnya menepati janji. Dalam Islam, janji adalah sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, menegaskan bahwa konsistensi dan kejujuran adalah pilar utama moralitas seorang Muslim.

Surat Al-Isra Ayat 27

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanal syayathiin, wa kaanasy syaythanu lirabbihii kafuurraa."

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

Penjelasan Ayat 27

Ayat 27 secara eksplisit mengutuk perilaku pemborosan (israf). Pemborosan didefinisikan bukan hanya sekadar menghamburkan uang, tetapi juga menggunakan segala kenikmatan atau sumber daya (waktu, energi, harta) secara berlebihan tanpa tujuan yang benar atau tanpa rasa syukur. Allah SWT menyandingkan orang yang boros sebagai 'saudara setan'. Hal ini menunjukkan betapa buruknya sifat boros dalam pandangan Islam. Setan, sebagai simbol ketidaktaatan, dicirikan sebagai makhluk yang sangat kufur (ingkar) kepada nikmat Tuhannya. Dengan demikian, perilaku boros adalah cerminan dari ketidakmampuan seseorang untuk menghargai karunia Allah dan merupakan langkah awal menuju kekufuran terhadap nikmat tersebut.

Kesatuan Pesan Moral: Keseimbangan dan Tanggung Jawab

Jika kita merenungkan kedua ayat ini secara berdampingan, terlihat jelas benang merah ajaran Islam tentang manajemen sumber daya dan etika sosial. Ayat 17 mengajarkan tentang **kehati-hatian dan keadilan** dalam mengelola aset orang lain (khususnya yatim), serta **keharusan menepati janji**. Sementara itu, Ayat 27 menekankan pentingnya **moderasi dan kesyukuran** dalam menggunakan aset diri sendiri, dengan memberikan label keras bagi mereka yang melanggar batas (pemboros).

Prinsip utama yang ditekankan adalah keseimbangan. Islam melarang dua ekstrem: kikir (meski tidak disebutkan langsung di sini, ini adalah kebalikan dari israf) dan pemborosan (israf). Lebih jauh lagi, menjaga amanah harta anak yatim menunjukkan tingginya standar etika yang harus dipenuhi seorang Muslim, yang melampaui sekadar urusan pribadi. Menepati janji adalah fondasi kepercayaan sosial. Kedua ayat ini menuntut kesadaran bahwa setiap nikmat, baik yang kita kelola untuk orang lain maupun yang kita nikmati sendiri, harus dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks kehidupan modern, di mana konsumerisme sering kali mendorong pemborosan, pengingat dari Surat Al-Isra ini menjadi sangat relevan. Ajaran ini mengajak kita untuk hidup secara sadar, menghargai setiap rezeki, dan menjauhi jalan yang disukai oleh setan, yaitu jalan kesia-siaan dan ingkar nikmat.

🏠 Homepage