Islam adalah agama yang sangat menekankan pada hubungan vertikal (dengan Allah SWT) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia). Dua pilar ini seringkali saling terkait erat dalam Al-Qur'an. Salah satu bagian yang secara gamblang memaparkan etika fundamental dalam interaksi sosial terdapat dalam Surat Al-Isra ayat 23 hingga 25. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai fondasi utama dalam membangun tata krama Islami, terutama terkait penghormatan kepada orang tua dan sikap dalam berbelanja.
Fokus utama dari rangkaian ayat ini adalah perintah untuk berbuat baik, menjauhi sikap yang dapat menyakiti, serta prinsip keadilan dan ketenangan hati. Memahami dan mengamalkan surat al isra ayat 23 25 berarti memahami inti dari muamalah (interaksi sosial) yang diajarkan oleh Islam.
"Dan Tuhanmu telah menetapkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak."
(QS. Al-Isra: 23 - Sebagian)
Ayat 23 membuka dengan penguatan tauhid, kemudian segera menyambungnya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan orang tua dalam hierarki prioritas seorang Muslim, tepat setelah kewajiban terhadap Allah SWT. Perintah ini mencakup pengamalan yang menyeluruh, bukan sekadar ucapan. Seorang anak wajib bersikap rendah hati, tidak meninggikan suara di hadapan mereka, dan selalu mendoakan mereka.
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
(QS. Al-Isra: 23 - Lanjutan)
Inilah poin krusial yang sering diuji dalam kehidupan sehari-hari. Kata "ah" sering diartikan sebagai ungkapan ketidaksenangan atau kejengkelan yang paling ringan sekalipun. Jika mengucapkan "ah" saja dilarang, apalagi membantah dengan nada tinggi atau menghardik. Ketika orang tua mencapai usia renta, kebutuhan mereka akan perhatian dan kesabaran anak justru semakin besar. Oleh karena itu, Islam memerintahkan bahasa yang qaulan kariman (perkataan yang mulia dan terhormat). Sikap ini menjadi tolok ukur keimanan seseorang.
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil'."
(QS. Al-Isra: 24)
Ayat 24 melengkapi etika berinteraksi dengan orang tua. Sikap merendahkan diri (tawadhu') harus ditunjukkan melalui perilaku fisik—misalnya menundukkan pandangan atau berjalan di belakang mereka saat berjalan. Selain itu, penekanan pada doa adalah pengakuan bahwa jasa orang tua tidak akan pernah terbalas tuntas oleh usaha anak. Doa adalah hadiah terbaik yang bisa dipersembahkan. Doa dalam konteks surat al isra ayat 23 25 ini menunjukkan bahwa penghormatan tidak berhenti saat orang tua meninggal dunia.
"Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan sungguh Kami telah memberikan kelebihan kepada sebahagian nabi-nabi atas sebahagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud."
(QS. Al-Isra: 25 - Sebagian)
Ayat 25 mengalihkan fokus dari ranah individual (orang tua) ke ranah sosial yang lebih luas, yaitu tanggung jawab terhadap kerabat dekat dan fakir miskin. Ayat ini berbunyi: "Dan berikanlah kepada kerabat haknya, kepada orang yang membutuhkan pertolongan, dan orang yang sedang dalam perjalanan..."
Allah mengingatkan bahwa Dialah yang Maha Tahu keadaan setiap hamba-Nya. Dalam konteks ini, perintah memberi adalah bentuk nyata penegasan syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah. Memberi kepada kerabat adalah prioritas karena kedekatan hubungan darah. Memberi kepada yang membutuhkan adalah kewajiban sosial untuk menjaga stabilitas ekonomi umat. Islam mengajarkan keseimbangan: nikmati rezeki yang halal, namun sisihkan sebagian untuk mereka yang kurang beruntung.
Rangkaian surat al isra ayat 23 25 ini memberikan peta jalan yang komprehensif mengenai etika utama seorang Muslim. Pertama, ketaatan total kepada Allah SWT. Kedua, puncak pengabdian kepada manusia melalui berbakti dan berkata mulia kepada orang tua. Ketiga, tanggung jawab sosial dalam menafkahi kerabat dan membantu mereka yang membutuhkan. Ayat-ayat ini adalah cerminan bahwa kesalehan individual tidak terpisahkan dari kepedulian sosial. Dengan menjalankan tiga prinsip ini, seorang Muslim membangun masyarakat yang kokoh, penuh kasih sayang, dan penuh ketenangan.