Makna Mendalam Surat Al-Maidah Ayat 44
Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak sekali ajaran fundamental mengenai hukum, etika, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam kajian hukum Islam dan sejarah kenabian adalah ayat ke-44. Ayat ini secara spesifik membahas tentang diturunkannya Taurat kepada Nabi Musa AS dan fungsi kitab suci tersebut sebagai petunjuk serta cahaya bagi Bani Israil.
Memahami konteks dan makna ayat ini sangat krusial. Ayat ini tidak hanya menegaskan otoritas wahyu Allah tetapi juga memberikan kritik keras terhadap kelompok Yahudi yang saat itu (dan terkadang di masa kini) menyembunyikan sebagian ajarannya atau tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup sepenuhnya.
Ilustrasi representasi Taurat sebagai petunjuk.
Teks Arab dan Terjemahan
Konteks Historis dan Signifikansi "Muhayminan"
Ayat 44 ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Terdapat beberapa poin penting yang terkandung di dalamnya. Pertama, pengakuan bahwa Al-Qur'an datang membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat (yang diturunkan kepada Musa) dan Injil (yang diturunkan kepada Isa).
Kata kunci yang sangat penting di sini adalah "muhayminan 'alaihi". Para mufasir menjelaskan bahwa kata muhaymin memiliki beberapa makna turunan, yang paling kuat adalah 'pengawas', 'pemelihara', atau 'pembenar sekaligus penguji'. Ini berarti Al-Qur'an memiliki otoritas untuk menguji keaslian ajaran yang ada pada kitab-kitab sebelumnya, serta mengoreksi penyimpangan atau penafsiran yang telah diubah oleh tangan manusia selama periode waktu tertentu.
Perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW untuk "berhukum dengan apa yang diturunkan Allah" menunjukkan bahwa standar kebenaran tertinggi adalah wahyu ilahi, bukan hawa nafsu atau kebiasaan masyarakat yang menyimpang. Hal ini menjadi landasan utama dalam hukum Islam (Syari'ah).
Diversitas Syariat, Kesatuan Tujuan
Bagian kedua dari ayat ini sangat menohok: "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami tetapkan syariat dan minhajan (jalan hidup)." Ayat ini menegaskan prinsip pluralitas dalam hal pelaksanaan ritual dan hukum parsial antar umat beragama yang berbeda, karena masing-masing nabi membawa tuntunan yang sesuai dengan konteks zaman dan kondisi umatnya.
Namun, meskipun syariatnya berbeda, tujuan akhirnya tetap sama: menuju ketaatan penuh kepada Allah SWT. Allah berfirman bahwa jika Dia mau, semua manusia bisa dijadikan satu umat dengan satu syariat tunggal. Akan tetapi, Allah sengaja menciptakan keragaman ini sebagai ujian (liyabluwakum). Ujian ini adalah tentang bagaimana manusia merespons ajaran yang berbeda-beda tersebut, apakah mereka akan memilih untuk berlomba dalam kebaikan atau justru saling bertentangan.
Pesan penutup ayat ini adalah seruan untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqu al-khairat). Persaingan antar umat seharusnya bukan pada siapa yang paling benar secara formalitas, melainkan siapa yang paling gigih dalam mengamalkan nilai-nilai moral dan kebaikan yang diwahyukan. Pada akhirnya, semua akan kembali kepada Allah untuk menerima pertanggungjawaban atas segala perbedaan dan perselisihan yang mereka ciptakan di dunia. Surat Al-Maidah ayat 44 adalah pengingat abadi akan tanggung jawab kita terhadap wahyu dan tujuan akhir kehidupan yang tunggal.