Rentang ayat 80 hingga 100 dari Surat Al-Maidah (Hidangan) menyimpan pelajaran penting mengenai kekuasaan, penghakiman, dan tanggung jawab umat Islam, khususnya dalam kaitannya dengan kaum yang zalim dan bagaimana seharusnya mukmin memandang dunia serta akhirat. Ayat-ayat ini menyoroti konsekuensi dari pengkhianatan dan keengganan untuk tunduk pada hukum Allah.
Ayat-ayat awal dalam rentang ini memberikan teguran keras kepada orang-orang yang bersekutu dengan orang kafir daripada orang mukmin. Allah SWT berfirman, "Kamu akan melihat kebanyakan dari mereka berlomba-lomba dalam (melakukan) kekafiran; (karena) kebencian mereka terhadap orang-orang yang beriman. Seandainya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman-teman penolong." (QS. Al-Maidah: 82).
Ayat ini menekankan bahwa loyalitas sejati harus tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika loyalitas terbagi, keimanan cenderung melemah, yang berujung pada sikap mengambil musuh Islam sebagai pelindung atau sekutu. Ini adalah ujian fundamental dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kontras disajikan dengan pujian bagi mereka yang ketika mendengar kebenaran (wahyu), mata mereka tercurah air mata karena mengakui kebenaran itu. Mereka disebut orang-orang yang memahami. Ini adalah tanda kelembutan hati yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi risalah Ilahi.
Selanjutnya, ayat-ayat ini memberikan peringatan tegas mengenai pengharaman rezeki yang dihalalkan oleh Allah.
Allah melarang umat-Nya membuat hukum tandingan terhadap apa yang telah Dia halalkan (seperti mengharamkan makanan tertentu tanpa dalil syar’i yang sah) dan melarang mereka berbuat dusta dengan mengatasnamakan Allah. Menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal adalah bentuk penistaan terhadap syariat dan merupakan pelanggaran serius.
Perintah untuk memakan rezeki yang baik dan halal (tayyib) dipertegas, sekaligus perintah untuk bertakwa kepada Allah, karena hanya kepada-Nya kita akan dikumpulkan.
Ayat 90-91 secara khusus membahas tentang judi (maysir), minuman keras (khamr), berhala (ansab), dan mengundi nasib (azlam). Semua ini dinyatakan sebagai perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan yang harus dijauhi. Tujuannya adalah untuk menjauhkan umat dari perbuatan yang merusak akal, merusak persaudaraan, dan menjauhkan dari dzikir kepada Allah.
Bagian tengah Al-Maidah ini secara konsisten menyerukan ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya, serta peringatan keras terhadap mereka yang berpaling. Jika manusia diperintahkan untuk taat, konsekuensi dari berpaling adalah konsekuensi berat di akhirat.
Ayat 97 menjadi salah satu landasan utama dalam fikih Islam mengenai keutamaan Baitullah: "Allah telah menjadikan Ka'bah yang suci itu sebagai patokan (pusat) bagi manusia dan juga bulan Haram..." Ini menunjukkan bahwa Ka'bah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga titik sentral peradaban dan keamanan.
Ayat terakhir dalam rentang ini menegaskan kembali tugas utama para rasul, yaitu menyampaikan risalah dengan jelas. Kewajiban umat beriman adalah mendengar dan taat.
Perbandingan antara orang yang beriman dan yang tidak diungkapkan secara tajam di ayat 100.
"Katakanlah: 'Tidak sama antara yang buruk dan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.'" (QS. Al-Maidah: 100).
Pesan penutup ini adalah ajakan untuk menggunakan akal sehat (ulul albab) dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan, tanpa terpedaya oleh kuantitas atau kemewahan keburukan duniawi. Keberuntungan sejati hanya diraih melalui ketakwaan, bukan karena banyaknya pengikut atau kemudahan duniawi. Memahami ayat 80 hingga 100 Al-Maidah berarti memahami bahwa iman menuntut loyalitas total, menjauhi segala yang merusak spiritual dan sosial, serta selalu mengutamakan pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.