Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an yang agung, setiap ayat membawa pesan yang mendalam dan relevan bagi umat manusia sepanjang masa. Salah satu ayat yang sering menjadi subjek perenungan mendalam, terutama terkait konsep rezeki dan keberuntungan duniawi, adalah **Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) ayat ke-100**.
Teks dan Konteks Ayat 100
Ayat ini secara spesifik diturunkan dalam konteks dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan kaum musyrikin Mekkah mengenai harta kekayaan dan kemampuan finansial umat Islam. Ayat ini berfungsi sebagai penegasan ilahiah mengenai pengelolaan sumber daya dan batasan ambisi duniawi.
Ayat ini mengandung dua poin utama: sebuah pengandaian hipotetis tentang kekayaan mutlak dan deskripsi tabiat dasar manusia dalam memandang harta.
Ilustrasi SVG: Ambisi dan Kikir
Analisis Pengelolaan Rezeki
Allah SWT, melalui ayat ini, menunjukkan sifat-Nya yang Maha Pemurah, yang memberikan rezeki tanpa batas (Gudang Rezeki Tuhan). Namun, Allah juga menyoroti sifat manusiawi yang melekat: kekikiran. Jika manusia diberi kendali penuh atas sumber daya tanpa batas, mereka cenderung akan menahannya, bukan karena takut kehabisan seperti yang diasumsikan kaum musyrikin, tetapi karena sifat tamak dan rasa takut kehilangan kepemilikan.
Konteks turunnya ayat ini adalah ketika kaum Quraisy menganggap bahwa kemiskinan sebagian sahabat Nabi adalah bukti kegagalan risalah. Mereka membayangkan jika Nabi Muhammad diizinkan mengelola kekayaan dunia, tentu pengikutnya akan berlimpah ruah. Ayat 100 mematahkan logika ini.
Sifat kikir yang disebutkan di akhir ayat adalah diagnosis psikologis yang tajam. Kekayaan yang tidak terbatas di tangan manusia yang hatinya belum tercerahkan oleh iman sejati justru akan memperburuk sifat pelitnya. Mereka akan takut jika rezeki yang mereka pegang suatu saat akan berpindah tangan atau habis, sehingga mereka menimbunnya.
Pelajaran Tauhid dan Materialisme
Al-Isra ayat 100 mengajarkan pelajaran tauhid yang fundamental: hanya Allah yang berhak mengatur rezeki dan kekayaan tanpa rasa takut atau perhitungan. Bagi seorang mukmin, pemahaman ini seharusnya membebaskan dari obsesi terhadap akumulasi harta.
Ketika kita menyadari bahwa sumber kekayaan yang sesungguhnya tidak terikat pada perhitungan kita, melainkan berada di tangan Yang Maha Pemilik, maka dorongan untuk bersikap dermawan menjadi lebih kuat. Karena apa yang kita sedekahkan adalah 'titipan' yang dikelola dengan izin-Nya, bukan hasil upaya yang harus dipertahankan mati-matian.
Ayat ini juga menjadi kritik terhadap materialisme yang berlebihan. Kehidupan yang benar bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan, melainkan seberapa baik kita mendistribusikan apa yang telah Allah anugerahkan. Menggenggam harta terlalu erat akan menghasilkan kegelisahan, sesuai dengan sifat kikir yang disebutkan dalam firman-Nya.
Relevansi Kontemporer
Di era modern, di mana indikator kesuksesan sering diukur dari aset dan kekayaan bersih, pelajaran dari Al-Isra 100 menjadi sangat relevan. Banyak individu atau korporasi yang memiliki sumber daya luar biasa, namun menghadapi kesulitan dalam berbagi manfaatnya kepada masyarakat luas karena mentalitas "menimbun" atau "kikir".
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekayaan adalah ujian. Ujiannya bukan terletak pada penerimaan kekayaan itu sendiri, tetapi pada respons kita terhadapnya. Apakah kita menjadi penjaga yang takut kehilangan, ataukah kita menjadi saluran rezeki yang lapang dan bersyukur? Jawaban atas pertanyaan ini tersembunyi dalam pemahaman mendalam terhadap ayat yang memaparkan kelemahan hakiki manusia di hadapan rezeki ilahi.
Dengan merenungkan ayat ini, seorang Muslim diajak untuk melepaskan keterikatan diri yang berlebihan terhadap dunia, dan fokus pada kualitas hubungan spiritual yang lebih utama daripada kuantitas harta yang dimiliki.