Katakanlah (Muhammad): "Wahai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu yang bukan sebenarnya, dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang sungguh-sungguh telah sesat dahulu, dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 77)
Surah Al-Maidah, atau "Hidangan", adalah salah satu surah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat 77 secara spesifik ditujukan kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang berada di sekitar Madinah. Ayat ini mengandung peringatan keras dari Allah SWT melalui lisan Rasulullah ﷺ mengenai batas-batas dalam beragama dan bahaya mengikuti hawa nafsu serta tradisi yang menyesatkan.
Fokus utama ayat ini adalah mencegah umat beriman, khususnya yang berinteraksi dengan Ahlul Kitab, agar tidak terjerumus dalam sikap berlebihan (ghuluw) dalam beragama. Dalam konteks historis, ini merujuk pada klaim ketuhanan yang berlebihan atau penafsiran ekstrem terhadap ajaran suci mereka yang telah menyimpang dari tauhid murni yang dibawa oleh Musa dan Isa AS.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu yang bukan sebenarnya." Dalam terminologi Islam, ini sering diartikan sebagai larangan berbuat ghuluw. Beragama seharusnya didasarkan pada wahyu dan tuntunan yang jelas. Melampaui batas berarti menambahkan hal-hal yang tidak diperintahkan atau meyakini sesuatu yang bertentangan dengan hakikat syariat.
Bagi Ahlul Kitab saat itu, melampaui batas ini bisa berupa pengkultusan nabi dan rasul hingga derajat yang menempatkan mereka sejajar dengan Tuhan. Sikap ini sangat dilarang karena merusak inti ajaran Islam, yaitu penegasan terhadap keesaan Allah (tauhid). Seorang muslim harus teguh pada batasan-batasan syariat, tidak terlalu longgar hingga mengabaikan perintah, dan tidak pula terlalu ekstrem hingga menciptakan bid'ah atau kekerasan yang tidak disyariatkan.
Ayat tersebut melanjutkan dengan peringatan tegas: "dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang sungguh-sungguh telah sesat dahulu." Ini adalah peringatan universal yang berlaku bagi setiap umat. Sejarah penuh dengan contoh-contoh kelompok atau individu yang menyimpang dari ajaran dasar para nabi. Mereka memulai dengan niat baik, namun karena didorong oleh ego, kepentingan duniawi, atau salah tafsir, mereka akhirnya tersesat.
Allah mengingatkan bahwa kesesatan yang pernah terjadi di masa lalu memiliki pola yang sama. Jika suatu kelompok telah terbukti menyimpang dari jalan lurus (as-shirath al-mustaqim) dan menyesatkan banyak pengikutnya, maka mengikuti jejak mereka adalah sebuah kebodohan spiritual. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai warisan kebenaran kenabian, bukan tradisi yang merusak kebenaran tersebut.
Ayat 77 menyimpulkan kondisi kelompok yang sesat tersebut dengan dua ciri utama:
Oleh karena itu, Al-Maidah ayat 77 berfungsi sebagai kompas moral dan spiritual. Ia menuntut kehati-hatian dalam menerima ajaran baru atau tradisi yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, serta mendorong umat untuk selalu kembali kepada sumber ajaran yang murni, mencari kebenaran yang tidak pernah menyimpang dari garis lurus yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Penekanan pada "jalan yang lurus" menekankan pentingnya ketaatan tunggal kepada Allah.