Masjidil Aqsa dalam Lintasan Ayat Al-Qur'an

Representasi Masjidil Aqsa Siluet kubah emas dan struktur masjid dengan latar belakang gurun.

Masjidil Aqsa, atau seringkali disebut Al-Haram Al-Sharif (Tempat Suci yang Mulia), adalah salah satu situs paling sakral dalam Islam. Letaknya di Yerusalem Timur ini bukan hanya penting secara historis tetapi juga memiliki kedudukan spiritual yang tinggi, menjadikannya kiblat pertama umat Muslim dan tempat peristirahatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Keagungan dan kesucian tempat ini secara eksplisit diabadikan dalam firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an, menunjukkan signifikansinya sejak awal risalah Islam.

Penyebutan Langsung dalam Al-Qur'an: Al-Masjidil Aqsa

Penyebutan paling gamblang mengenai Masjidil Aqsa dalam Al-Qur'an terdapat dalam Surat Al-Isra ayat pertama. Ayat ini menjadi landasan utama bagi keutamaan spiritual kompleks Masjidil Aqsa, karena ia mengaitkan tempat tersebut langsung dengan peristiwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.

"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra': 1)

Kata "Al-Masjidil Aqsa" secara harfiah berarti "Masjid yang Paling Jauh". Penamaan ini menunjukkan batas terjauh perjalanan spiritual yang dilakukan Rasulullah SAW dalam satu malam. Meskipun para mufassir berbeda pandangan mengenai apakah yang dimaksud adalah bangunan masjid itu sendiri atau area suci yang lebih luas (kompleks Al-Haram Al-Sharif), konsensus utama adalah bahwa perjalanan itu berakhir di lokasi fisik tempat Al-Aqsa berdiri hari ini, yang saat itu telah dikenal sebagai tempat ibadah sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Konteks Keberkahan di Sekelilingnya

Ayat yang sama tidak hanya menamai tempat tersebut, tetapi juga menegaskan statusnya sebagai wilayah yang diberkahi. Frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" memiliki implikasi teologis yang mendalam. Keberkahan ini tidak terbatas hanya pada struktur bangunan, tetapi mencakup seluruh wilayah sekitar Yerusalem dan Palestina. Hal ini menegaskan bahwa Masjidil Aqsa adalah pusat spiritual yang dijaga dan dirahmati oleh Allah SWT, bukan sekadar situs sejarah biasa. Keberkahan ini juga diyakini mencakup kesucian tempat tersebut untuk dipertahankan sebagai tempat ibadah yang damai.

Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram: Hubungan Spiritual

Al-Qur'an seringkali menempatkan Masjidil Aqsa dalam konteks perbandingan atau kesinambungan dengan Masjidil Haram di Mekkah. Masjidil Haram adalah kiblat awal dan tempat kelahiran Islam. Sementara itu, Masjidil Aqsa diabadikan dalam Al-Isra' sebagai titik akhir perjalanan malam yang agung, menunjukkan bahwa kedua masjid ini merupakan dua tiang utama pusat spiritualitas umat Islam di bumi. Keduanya adalah masjid yang memiliki status kekhususan dalam syariat, ditandai dengan keutamaan melakukan shalat di dalamnya.

Keutamaan Shalat di Masjidil Aqsa

Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam konteks ayat Isra', hadis Nabi Muhammad SAW memperkuat makna keberkahan yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Hadis sahih secara tegas menyatakan bahwa shalat yang dilakukan di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan shalat di tempat lain, kecuali Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah. Keutamaan ini adalah konsekuensi langsung dari status tempat suci yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur'an. Ini mendorong umat Islam untuk senantiasa menghormati dan menjaga kesuciannya.

Simbol Perjuangan dan Kesabaran

Selain status spiritualnya, Masjidil Aqsa juga seringkali menjadi metafora bagi ujian dan kesabaran umat Islam sepanjang sejarah. Kehadiran Al-Aqsa dalam narasi Al-Qur'an menegaskan bahwa tempat ini adalah bagian integral dari warisan kenabian. Keberadaannya, yang kini seringkali dibayangi oleh isu-isu politik dan konflik, mengingatkan umat Islam akan janji Allah bahwa tempat yang diberkahi tersebut akan selalu memiliki tempat khusus, terlepas dari kondisi duniawi yang menyelimutinya. Mempelajari penyebutannya dalam Al-Qur'an adalah cara untuk mengikat kembali hati pada dimensi spiritual dan historis Masjidil Aqsa yang abadi.

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib memahami bahwa Masjidil Aqsa bukanlah sekadar bangunan bersejarah, melainkan teks hidup yang termaktub dalam kitab suci, sebuah tempat yang diberkahi sejak awal penciptaan hingga akhir zaman.

🏠 Homepage