Surah Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat 87 dari surah ini mengandung pesan penting mengenai janji Allah SWT kepada Rasul-Nya dan umat-Nya terkait dengan Al-Qur'an dan ketenangan yang dibawanya.
Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian ayat (ayat 83 hingga 99) yang menegaskan keagungan Al-Qur'an dan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah terakhir.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Sab'an Minal Matsani" (سبعًا من المثاني), yang diterjemahkan sebagai "tujuh ayat yang diulang-ulang". Mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan tujuh ayat yang diulang-ulang ini adalah **Surah Al-Fatihah**, yang merupakan induk Al-Qur'an.
Mengapa Surah Al-Fatihah disebut "tujuh yang diulang-ulang"?
Oleh karena itu, memberikan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah anugerah yang luar biasa, menunjukkan kemuliaan wahyu yang dibawa beliau.
Setelah menyebutkan keistimewaan Al-Fatihah, Allah SWT melanjutkan dengan menyebutkan pemberian kedua, yaitu "Al-Qur'an Al-Azhim" (القرآن العظيم), Al-Qur'an yang agung.
Penggabungan kedua unsur ini menunjukkan kesempurnaan risalah yang diemban Nabi Muhammad SAW. Jika Al-Fatihah adalah inti dan ringkasan ajaran tauhid yang mendasar, maka Al-Qur'an secara keseluruhan adalah wahyu yang paripurna, berisi hukum, kisah, peringatan, dan petunjuk bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Ayat ini memberikan ketenangan bagi Rasulullah SAW di tengah tantangan dan penolakan yang beliau hadapi. Penekanan pada pemberian wahyu yang sedemikian agung berfungsi sebagai penegasan ilahiyah bahwa perjuangan beliau didukung oleh sumber otoritas tertinggi, yaitu Kalamullah.
Surah Al-Hijr ayat 87 mengajarkan kita beberapa pelajaran fundamental:
Fokus pada Al-Fatihah sebagai fondasi ibadah mengajarkan kita untuk tidak melupakan hal-hal dasar yang paling penting. Dalam kehidupan, kita harus selalu kembali kepada prinsip-prinsip utama keimanan sebelum mendalami hal-hal yang lebih rinci.
Kita seharusnya bersyukur bahwa Allah memudahkan umat Nabi Muhammad SAW dengan memberikan inti ajaran dalam bentuk yang ringkas namun padat makna (Al-Fatihah) dan petunjuk lengkap (Al-Qur'an).
Ketika menghadapi keraguan atau kesulitan dalam berdakwah (sebagaimana Nabi SAW hadapi), mengingat besarnya anugerah berupa Al-Qur'an seharusnya menjadi sumber kekuatan dan keteguhan hati. Allah telah membekali beliau dengan wahyu yang paling agung, maka tidak ada alasan untuk gentar.
Ayat ini adalah sebuah deklarasi kehormatan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, sekaligus menjadi pengingat abadi bagi umatnya tentang keagungan dan kedudukan Al-Qur'an dalam kehidupan seorang Muslim.