Salah satu pertanyaan mendasar dalam botani pertanian adalah mengklasifikasikan sistem perakaran tanaman. Dalam konteks tanaman pangan penting seperti jagung (Zea mays), pemahaman ini krusial untuk menentukan kebutuhan air, nutrisi, dan stabilitas tanaman. Berdasarkan pengamatan morfologis, jagung secara tegas diklasifikasikan memiliki **akar serabut**, bukan akar tunggang.
Akar serabut (atau dalam bahasa Inggris disebut fibrous root system) adalah sistem perakaran yang terdiri dari banyak akar kecil yang tumbuh dari pangkal batang tanaman. Akar-akar ini memiliki ukuran yang relatif sama, tumbuh secara menyebar dan dangkal di dalam tanah, mirip seperti jalinan serat atau sikat. Sistem ini sangat efektif untuk menyerap air dan nutrisi dari lapisan tanah atas.
Berbeda dengan akar tunggang, yang memiliki satu akar utama yang tumbuh lurus ke bawah jauh ke dalam tanah (ciri khas tanaman dikotil seperti kacang-kacangan atau wortel), akar serabut pada jagung (yang merupakan tanaman monokotil) memiliki fungsi utama yang berorientasi pada penyebaran lateral.
Sistem akar jagung berkembang dalam dua tahap utama yang saling melengkapi. Tahap awal melibatkan pembentukan akar embrionik yang muncul dari benih saat berkecambah. Namun, keunggulan jagung terletak pada pengembangan akar aksilar atau akar adventif.
Akar adventif ini mulai muncul dari nodus-nodus batang bawah, biasanya terjadi setelah tanaman mencapai fase pertumbuhan vegetatif tertentu (sekitar tiga minggu setelah tanam). Akar-akar baru ini tumbuh menyebar ke segala arah, membentuk massa padat yang berfungsi sebagai jangkar sekaligus sebagai organ penyerap utama. Meskipun tampak menyebar dangkal, sistem akar jagung dapat mencapai kedalaman signifikan jika kondisi tanah memungkinkan, namun mayoritas penyerapan terjadi dalam 60 cm lapisan atas tanah.
Keberadaan akar serabut ini memberikan beberapa keuntungan struktural. Mereka memberikan penahanan yang sangat baik terhadap erosi tanah di permukaan dan memungkinkan tanaman jagung menopang dirinya sendiri meskipun memiliki batang yang relatif tinggi dan rentan terhadap roboh (lodging) akibat angin kencang.
Pengenalan bahwa akar jagung adalah serabut memiliki implikasi besar dalam praktik pertanian. Karena akar menyebar luas namun cenderung dangkal, petani harus menyesuaikan strategi irigasi dan pemupukan.
Untuk menegaskan kembali, akar tunggang (khas dikotil) memiliki struktur hierarkis yang jelas: satu akar primer tebal yang bercabang menjadi akar sekunder. Jika akar primer ini dipotong atau rusak, tanaman mungkin akan terpengaruh parah. Sebaliknya, akar serabut (khas monokotil seperti jagung, padi, atau rumput) bersifat redundan. Kehilangan satu atau beberapa akar serabut tidak akan fatal karena akar lain akan mengambil alih fungsi penyerapan. Struktur inilah yang membuat tanaman monokotil umumnya lebih mudah diregenerasi dari kerusakan akar permukaan.
Kesimpulannya, sistem perakaran pada jagung adalah **akar serabut**. Pengenalan sifat ini membantu kita memahami bagaimana jagung berinteraksi dengan lingkungannya, mulai dari cara ia menyerap air hingga bagaimana ia menancap kuat di ladang. Pemahaman ini adalah kunci untuk memaksimalkan potensi hasil panen jagung di berbagai kondisi agronomis.
Meskipun fokus utamanya adalah serabut, perlu dicatat bahwa nodus akar di atas permukaan tanah juga dapat memproduksi akar penopang (prop roots) ketika tanaman mengalami stres atau kekeringan parah, menambah stabilitas tambahan pada tanaman yang sudah mapan ini.